Selasa, 15 November 2016

Ramu Katamu sederhana

Menghargai itu sederhana, ketika kau bermurah hati menghargai hal-hal kecil yang dilakukan orang lain untuk mendapatkan kepercayaan dirinya...itu luar biasa..

Senin, 14 November 2016

Senin, 07 November 2016

Guru Maafkan kami




Sesekali kau marah menyaksikan kelalaian kami
Sesekali pula kami terpekur mendengarmu
Rasa kecewa yang tak mampu kau sampaikan lewat kata-kata
Hanya mata indahmu yang berkaca-kaca
Menyimpan harapan besar terhadap kami
Sembilu yang tanpa sadar telah membuatmu lara
Maafkan guru..
Maafkan murid-muridmu
Maafkan kami ketika
Tak mengerjakan PR yang kau berikan
Mengacuhkanmu..
Membiarkanmu mengoceh sendiri di depan kelas
Maafkan kami,
Ketika tak satu-pun diantara kami yang
Mau tau sulitnya perjuanganmu
Guru..
Sia-sia keringatmu, suaramu, waktumu
Demi kami yang tidak menghargai perjuanganmu
Terkadang kami hanya meramaikan kelasmu
Tanpa berada dalam pelajaranmu
Hingga lagi..lagi
Kecewa yang kau telan sebagai pengenyang
Jiwa tulusmu..

Bebaskan Aku Dari Kehampaan Ini




Disini aku hidup
Dahulu aku dapat tersenyum dan tertawa bersama mereka
Merasakan hangatnya dekapan-Mu
Tapi kini?
Aku merasa sendiri dalam keramaian
Jiwaku terkapar lelah menghadapi kenyataan
Hampa menyakitiku bila mengenang rasa
Aku ingin kembali Engkau rengkuh
Dekaplah jiwa gersang ini walau sejenak
Kini aku terbaring lemah ditempat asing ini
Kepalaku terasa berat
Aku ingin lari dari kenyataan ini
Namun kakiku tak bisa kugerakkan
Perlahan dunia kurasa semakin buram
Perlahan namun pasti ia akan hilang
Seiring buramnya alam dalam pandangan
Nafasku telah sampai ditenggorokan
Semakin jelas buram yang kupandang
Hingga akhirnya nafasku terhenti dalam asma-Mu
Nyatakah ini?
Benarkah dunia bukan lagi menjadi tempatku?
Aku terbangun..Syukurlah ini hanyalah mimpi
Namun Kau pasti menjemputku
Ya allah
Sebelum Engkau memanggilku,dekaplah aku
Bebaskan aku dari kehampaan ini

Hijrah



Sinar rembulan malam
Penuh pesona meski redup
Ciptaan Sang Maha Agung
Aku tertegun, merenung
Ku memohon ampun-Mu Rabbi
Satu per satu ku tepis noda
Ku coba menuntun rakib tersenyum
Menulis indah perjalananku
Perlahan aku yakin
Hatiku harus berhijrah
Ku cari jalan baru,
Tak peduli rintangan
Aku melangkah mantap
 Keluar dari jalur keburukan
Tuhanku, tuntun aku
Dalam hijrahku ke jalan-Mu

Lelah




Ibu, aku lelah
Sudah lama aku tak memelukmu
Tak lagi menemanimu ke ladang
Aku lelah disini
Semuanya terasa sulit kujalani Bu
Aku ingin memijitmu
Yang lelah setelah seharian bekerja
Aku ingin memikul bebanmu
Aku lelah Bu
Aku lelah menyusahkanmu
Aku ingin membanggakanmu
Aku ingin membahagiakanmu
Aku ingin menemanimu                                                                                                
Dalam petang yang membayangi usiamu
Bu, aku lelah disini Bu
Aku ingin menemani hari tuamu

Amnesia




Aku lupa pernah mengenalmu
Menjadikanmu orang penting dalam hayatku
Aku lupa ada orang lain yang kukenal selain keluargaku
Aku lupa, apa saja yang pernah kulalui sampai setua ini
Suatu kali
Aku dibawa mereka ke sebuah ruang petak
Dindingnya penuh dengan gambar
Ada rangkaian ayat juga beberapa tempelan jenis lain
Mata mereka iba menatapku
Ingin mengembalikan ingatanku
Mereka menjelaskannya satu per satu
Aku mendengarkan, hampa, tak ingat apa-apa
Lalu mereka menyerahkan sebuah buku
Aku disuruh membacanya
Aku buka, tulisannya jelek, banyak coret-moret
Mereka bilang itu diari yang slalu aku tulis dulu
Diakhir halamannya aku tuliskan
“ jika nanti aku amnesia
Aku bisa mengingatnya lewat tulisan ini”
Aku tersentak, benar
Sekarang aku ingat siapa dirimu
Betapa pentingnya kau bagiku dulu
Aku ingat siapa saja digambar itu
Ya, aku ingat semuanya, tapi kau tiada lagi
Aku kehilangan ingatanku
Juga kehilanganmu waktu bencana itu
Aku semakin tua, uban mulai mengerayangi kepalaku
Aku tertidur, kupikir semua sudah selesai
Kau menggenggam erat jemariku
Kita berjalan ke surga bersama